Sunday, February 21, 2016

Kado Untuk Biru


"Biruuuuu! Ayo banguuuun!!!"
"hmm...," Biru membuka matanya sedikit. "Kamu siapa?" dan kembali melanjutkan tidurnya.
"Iiiih, kok, jahat, siiiih! Ayo banguuun iiiiihhh!" aku menarik selimutnya lalu menghujaninya
dengan cubitan di sana-sini.
"Aaaaa invasi dari makhluk asiiiing!" Biru menarik tanganku dan menahannya. Kemudian membalas cubitanku.
"Aaaaa, ampun iyaaa aku nyeraaah.."
"Yah...ngga seru, nih, baru segitu aja udah nyerah! Payaaah...,"
"hihihi...sekali-kali ngalah sama yang ulang tahun. Hihihi...selamat ulang tahun, Bi!"
"Hehe...makasih, ya, anak kecil!" Biru mengelus kepalaku dan tersenyum. Ah, senyum itu...
"Kadonya mana?" Biru menengadahkan tangannya kepadaku.
"Mandi dulu sana! Baru dikasih kado."
"Pelit.huuu..."
"Cepet mandi! Aku tunggu di depan, yaa,"
"Iyaaa," biru beranjak dari kasurnya sambil menarik hidungku.
"Aaaaa sakit tauuu!" sebelum aku sempat membalasnya, dia sudah hilang di balik pintu. Huh...dasar.

***

"Kamu mau bawa aku kemana, sih, Ngga? Kenapa mataku pake ditutup segala?" Aku tidak menghiraukan pertanyaannya sambil mengikat kain hitam untuk menutupi matanya.
"Nanti juga tau,kok. Pokoknya persyaratannya kamu ngga boleh tanya-tanya kita mau kemana. Oke?"
"iyadeh...," jawabnya pasrah.
Aku melajukan mobilku perlahan. Kulirik Biru di sebelahku yang masih merengut karena tidak diberitahu akan kemana.
"Bi, kok, diem aja,sih? Jangan marah dooong. Nanti kalo aku kasih tau bukan surprise dong namanya,"
"Siapa ang marah? Emang kapan, sih, aku marah sama kamu?" 
"Trus kenapa diem aja? Biasanya ceriwis bangeeet,"
"Enak aja ceriwis! Aku cuma ngantuk. Abisnya kamu bangunin aku pagi-pagi banget. Hari ini hari sakral tau. Saatnya buat aku hibernasi setelah seminggu ini begadang bikin tugas besar,"
"Hum..., jadi kamu ngga seneng, nih, Bi? Yaudah kita pulang aja, deh. Aku puter balik, ya,"
"Eh, eh, bercandaaa. Aku seneng banget kok. Jangan pulang, ya?"
"Huuu dasar kamu,"
"Hehe...jangan manyun gitu, ah. Udah kita ngobrol yang lain ajah," 

Sepanjang perjalanan itu, aku dan biru menghabiskannya dengan obrolan ngalor-ngidul. Kami tidak pernah kehabisan bahan obrolan. Ada saja hal baru yang bisa dibincangkan atau dikomentari. Dari teka-teki konyol sampai khayalan tentang masa depan. Tak terasa, kami sudah sampai di tujuan pertama.aku membawa biru turun. Sebuah taman kecil yang indah menjadi pilihanku. Di tengah taman di bawah pohon, aku mengajak biru duduk di atas karpet yang sudah kusiapkan.

"Jingga, kita dimana ini?"tanya biru dengan mata masih tertutup kain.
"Hmm...coba kamu diem trus rasain. Tebak kita ada dimana. Abis itu kamu boleh, deh, buka kainnya," Biru terdiam. Dia tampak menarik dan menghembuskan nafasnya. Sementara itu, aku menyiapkan kejutanku selanjutnya.
"Ah! Kita di taman, ya, Ngga?" biru menebaknya dengan tepat dan membuka kain di matanya.
"Happy birthday to you...happy birthday to you...happy birthday happy birthday, happy birthday to youuu! Yeee! Selamat ulang tahun, Bi!" aku menyodorkan sebuah kue dengan lilin di atasnya. Biru masih diam menatap kue di tanganku kemudian tersenyum.
" Jingga, kamu bikin aku speechless gini. Tapi, makasih, ya!"
" Sama-sama, Bi. Yuk tiap lilin! Aku udah laper, nih. Hehehe," biru tampak memejamkan matanya. Memanjatkan doanya dalam hati dan meniup lilin. Setelah itu kami menyantap hidangan kecil yang sudah kusiapkan sambil bersenda gurau. Tak terasa matahari mulai tinggi. Saatnya menuju tempat selanjutnya. Aku kembali menutup mata biru dengan kain. Dan dia tetap protes seperti awal tadi. Aku cuma tersenyum dan menggandengnya masuk mobil. Perjalanan ke tempat selanjutnya tidak memakan waktu yang lama. Untungnya jalanan tidak macet hari ini. Aku menggandeng Biru keluar mobil dan membuka penutup matanya.

" Jingga? Kebun binatang?" tanya biru setelah menyadari berada di mana.
"iya! Aku inget kamu pernah bilang suka sama hewan jadi aku bawa kamu kesini. Jarang-jarang kan kencan di kebun binatang?hehehe...,"
"kamu, nih," biru mengacak kepalaku.
Kami pun masuk sebelum hari semakin siang. Kebun binatang cukup ramai. Banyak rombongan taman kanak-kanak yang sedang berwisata hari ini. Aku dan biru tidak melewatkan satu pun kandang binatang yang ada disana. Kami naik gajah, memberi makan harimau, juga berfoto bersama ular.

 Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Hampir saja aku lupa untuk segera pergi karena keasyikan bermain.
"Bi, lain kali kita main kesini lagi, ya. Yuk, sekarang ikut aku lagi!" aku menggandeng tangan biru yang sedang asik menghabiskan minumnya.
"eh, kemana lagi, Ngga? Udah asik disini,"
"aku mau bawa kamu ke tempat yang lebih asik lagi. Yuk cepetan nanti kita telat!"
"okedeh. Ditutup lagi, nih, matanya?"
"iyadong.hehehe," aku mengikatkan kain penutup di mata biru dan bergegas menuju parkiran.
***

Aku melajukan mobil sedikit cepat untuk mengejar waktu. Jam di tanganku sudah menunjukkan pukul lima kurang lima belas menit. Aku harus sampai dalam waktu lima belas menit agar tidak merusak surprise-ku yang terakhir ini. Aku menaikkan kecepatanku. Untung saja jalanan tidak begitu ramai sore ini. Tidakku hiraukan Biru yang asyik mengomel di sampingku.

Pukul lima lewat tiga puluh lima menit akhirnya kami sampai di tujuan terakhir. Aku menggandeng biru keluar. Dia masih saja mengomel. Aku hanya menjawabnya dengan cengiran.

Aku terus menggandeng biru. Untung kami tiba tepat waktu.
" Jingga, kita dimana?" biru bertanya setelah aku menghentikan langkah kami. Aku tidak menjawabnya dan membukakan kain penutup matanya. Biru membuka matanya dan memicing karena kesilauan.
" Jingga?" biru menatapku tak percaya. Di depan kami matahari tengah menampakkan keindahannya. Iya. Senja. Semburat-semburat oranye di awan, suasana pantai yang menjadi bercahaya keemasan dan air laut yang berkilau tertimpa cahanyanya. Tidak ada yang bisa menandingi kecantikan senja. Di tempat inilah kami pertama bertemu. Kecintaanku pada senja dan kecintaan biru pada lautlah yang mempertemukan kami. Seperti sebuah frasa yang berkata "Semesta memang punya caranya sendiri untuk mempertemukan kita dengan cara yang tak disangka sama sekali". Pertemuan dengan biru adalah takdir dan bertemu dengan biru adalah takdir yang paling indah untukku.
"Selamat ulang tahun, Biru Laut! Ini kado buat kamu,"
"jingga...," biru tiba-tiba memelukku erat. Aku membalas pelukannya semakin erat.
"Terimakasih, Jingga Senja. Ini kado paling indah. Hari ini adalah kado paling indah. Aku sayang kamu...," biru berbisik di telingaku. Aku hanya bisa membalasnya dengan pelukan yang semakin erat.

*****



Sunday, January 17, 2016